Kendala Eksportir Buah dari Bali Saat Pandemi

Jero Putu Tesan
         
DENPASAR-RadarDewata.com
Pandemi telah memukul sendi-sendi perekonomian Bali akibat dampak ketidak seimbangan antara sektor pertanian dengan pertanian. Bali yabg terkenal akan buah berkualitas yang masuk di pasar eksport, kini juga mengalami kendala transportasi pengangkutan buah-buah yang hendak dikirim.

Eksportir yang juga Ketua Asosiasi Manggis Bali Jero Putu Tesan, Jumat (16/7), mengatakan  bahwa 80 persen buah eksport Bali larinya ke Cina. Untuk tahun ini akan ada panen raya di bulan Oktober 2021 hingga April 2022.

Kendala yang dihadapi oleh para eksportir, kata Jero Tesan, di Bali yaitu bidang transportasi. Sebelum pandemi, ada tujuh pesawat yang datang langsung ke Bali yang dapat dimanfaatkan jasa cargo angkut baliknya. Nah, semenjak pandemi ini pesawat menuju Bali tidak  ada lagi. Otomatis menggunakan jasa transportasi laut.

Karenanya, memakan waktu yang lebih panjang sehingga diperlukan mutu dan kualitas buah dari Bali yang lebih saveting. Selain itu, untuk mendorong eksport buah dari Bali, badan karantina sudah bersurat agar perusahaan eksport di Indonesia di audit secara virtual. Dari 71 eksportir di Indonesia, 16 diantaranya ada di Pulau Dewata, akan diaudit baik kebun maupun mahkemas, sesuai aturan protokol dari Cina.

Kendala yang dihadapi pula pada kebun yang ada di Bali belum tergistrasi sesuai syarat dari ketentuan eksport. Dan kebun yang sudah teregistrasi ijinnya sudah mati pada tahun 2021 yang sampai sekarang belum diperpanjang.

"Selain itu, kendala lainnya terletak pada minimnya SDM di Bali untuk tenaga sortir buah untuk menghasilkan buah yang berkualitas," jelas Tesan. (NBA)

Post a Comment

أحدث أقدم